Proposal penelitian


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-unhide:no;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

BAB I

P E N D A H U L U A N

A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Masa remaja sendiri terbagi atas dua masa yaitu masa remaja awal yang berkisar antara usia kurang lebih 13 tahun hingga 15 tahun dan masa remaja akhir antara usia 16 sampai 18 tahun.Masa remaja merupakan periode penting bagi anak. Karena pada periode ini akan mempengaruhi langsung terhadap perubahan  sikap dan prilaku anak.

Masa remaja merupakan masa peralihan. Peralihan bukan berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Masa remaja merupakan peralihan masa kanak-kanak dan pubertas menuju masa dewasa.

Masa remaja sebagai periode perubahan. Sebenarnya setiap masa perkembangan juga selalu ditandai dengan perubahan. Karena pada dasarnya perkembangan adalah proses perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi pada masa remaja sangat berbeda dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fase perkembangan lainnya. Baik itu menyangkut ruang lingkup, tempo, dan akibat jangka panjang dari perubahan tersebut.

Masa remaja merupakan masa bermasalah. Setiap periode dalam perkembangan mempunyai masalah, namun masalah yang terjadi pada masa remaja berbeda. Baik itu dalam hal kualitas maupun kompleksitasnya.

Masalah-masalah yang pada umumnya terjadi pada masa remaja antara lain sebagai berikut:

Masalah yang berhubungan dengan keadaan jasmaninya

Masalah yang berhubungan dengan kebebasannya

Masalah yang berhubungan dengan dorongan seksualnya

Masalah yang berhubungan dengan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya

Masalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial

Masalah yang berhubungan dengan kemampuannya

Masa remaja merupakan masa yang tidak realistis. Remaja khususnya remaja awal, cenderung memandang kehidupan secara tidak realistis. Ia melihat dirinya, orang lain, serta fenomena lainnya, sebagaimana yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya.

Masa remaja merupakan masa mencari identitas. Adanya anggapan bahwa dirinya bukan lagi anak-anak, menyebabkan mereka berusaha meninggalkan prilaku dan sikap kekanak-kanakannya untuk diganti dengan sikap dan prilaku yang lebih dewasa. Kedewasaan dalam konteks disini adalah kedewasaan menurut ukuran mereka, yang ternyata masih samar-samar.

Masa remaja merupakan ambang masa dewasa. Pada masa remaja, khususnya remaja akhir tanda-tanda kedewasaan dari segi sosial dan psikologis telah nampak dengan jelas.

Remaja yang gagal melewati masa ini tak jarang terjebak dalam perkembangan psikis yang tidak sehat. Bahkan seringkali menimbulkan masalah baru, salah satunya adalah kenakalan remaja.

Kenakalan remaja sendiri disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor  internal diantaranya adalah (1) Krisis identitas.
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. (2) Kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. Faktor eksternal diantaranya adalah             (1) Keluarga. Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. (2) Teman sebaya yang kurang baik. (3) Komunitas/ lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Melihat penjelasan diatas mengenai masa remaja, tentu bukan hal mudah bagi anak untuk melewati masa remaja secara optimal. Dukungan orang-orang terdekat utamanya orangtua dan guru pembimbing (konselor) turut mempengaruhi tingkat kedewasaan anak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari perkembangan yang kurang baik terhadap siswa kaitannya dengan kenakalan remaja yaitu dengan pemberian layanan bimbingan sosial pada siswa.

Pelayanan        bimbingan       dan    konseling     di SMA/ sederajat     meliputi     bidang bimbingan   pribadi,   bidang   bimbingan   sosial,   bidang  bimbingan   belajar   dan bidang bimbingan karier.  Salah satu bidang bimbingan yang membantu siswa dalam mengenal lingkungan dan mengembangkan diri dalam hubungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan yaitu bidang bimbingan sosial.

Bidang bimbingan sosial sendiri dapat diartikan sebagai pemberian bantuan pada siswa untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang rentan terjadi pada diri individu. Sehingga mampu menjadi pribadi yang mandiri dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Bidang bimbingan sosial bertujuan; 1. Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan secara efektif. 2. Pemantapan kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif, dan produktif. 3. Pemantapan kemampuan bersikap dalam berhubungan sosial, baik di rumah, sekolah, tempat bekerja maupun dalam masyarakat. 4. Pemantapan kemampuan pengembangan kecerdasan emosi dalam hubungan yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya baik di lingkungan sekolah yang sama maupun di luar sekolah. 5. Pemantapan pemahaman tentang peraturan, kondisi sekolah dan upaya pelaksanaanya secara dinamis serta bertanggung jawab.

Belakangan ini sering kita jumpai siswa SMA/ sederajat  melakukan tindakan anarki seperti perusakan gedung sekolah, menjadi anggota geng motor yang tak jarang membuat keonaran, minum alkhohol, merokok.  Kenyataan tersebut mendorong peneliti untuk secara khusus memberikan layanan bimbingan sosial dalam bentuk sosialisasi guna membuktikan adanya pengaruh pemberian  layanan bidang bimbingan sosial terhadap tingkat kenakalan remaja yang belakangan ini kerap kali menjadi topik pembicaraan di berbagai pemberitaan media.

Fenomena di atas mendorong peneliti  untuk melakukan penelitian tentang            “PENGARUH PEMBERIAN  LAYANAN BIDANG BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS X-2 DAN X-8 MAN SUMENEP TAHUN AJARAN 2010/2011”.

B. Identifikasi Masalah

“PENGARUH PEMBERIAN  LAYANAN BIDANG BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS X-2 DAN X-8 MAN SUMENEP TAHUN AJARAN 2010/2011””.

Dari judul tersebut, bagi peneliti yang memiliki wawasan luas, tidak hanya mengungkap pengaruh layanan bidang sosial, melainkan juga peran atau pengaruh           “Informasi Perkembangan Remaja” dan “Pengenalan Masalah-Masalah Remaja”. Sebab informasi perkembangan remaja dan pengenalan masalah-masalah remaja sangat erat kaitannya dalam “Layanan Bidang Sosial”.

Berdasarkan dari penjelasan diatas permasalahan yang timbul dapat di identifikasikan sebagai berikut:

1. Pemberian informasi perkembangan remaja  kepada siswa diperkirakan berpengaruh terhadap gejala kenakalan remaja.

2. Pengenalan masalah-masalah remaja kepada siswa diperkirakan berpengaruh terhadap gejala kenakalan remaja.

3. Pemberian layanan bidang sosial kepada siswa diperkirakan berpengaruh terhadap kenakalan remaja.

C. Pembatasan Masalah

Sehubungan ada berbagai masalah yang timbul maka perlu dibatasai dengan maksud untuk menghindari salah tafsir dan untuk memperjelas permasalahan agar pengkajiannya lebih mengena pada sasaran yang hendak dituju dengan membatasi masalah-masalah yang ada yaitu:

1. Pemberian layanan bidang sosial

2. Kenakalan Remaja

3. Di MAN Sumenep  Siswa   Kelas  X Tahun Ajaran 2010/2011.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas beberapa permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Adakah pengaruh antara pemberian layanan bidang sosial terhadap kenakalan remaja”

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari permasalahan di atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

“Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian layanan bimbingan sosial terhadap kenakalan remaja.”

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti, dapat menambah pengalaman dan keterampilan cara meminimalisasi tingkat kenakalan remaja  melalui pemberian layanan bimbingan sosial.

b. Bagi sekolah, dapat dijadikan acuan atau pedoman untuk memberikan rekomendasi kepada guru-guru yang lain dalam pemberian bimbingan sosial kepada siswa.

2. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya layanan pembelajaran bidang bimbingan sosial dalam Bimbingan dan Konseling.

b. Dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti selanjutnya pada kajian yang sama tetapi pada ruang lingkup yang lebih luasdan mendalam di bidang bimbingan sosial.

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

A.1 Pengertian Layanan Bidang Bimbingan Sosial

Bimbingan konseling dibedakan menjadi empat bidang bimbingan  yaitu:

a. Bimbingan pribadi

b. Bimbingan sosial

c. Bimbingan belajar

d. Bimbingan karir

Berdasarkan teori lama bimbingan pribadi masih dijadikan satu dengan bimbingan sosial. Karena masalah sosial tidak lepas dari masalah pribadi individu.

Menurut Dewa Ketut Sukardi (1993:11) mengungkapkan bahwa bimbingan pribadi sosial merupakan usaha bimbingan, dalam menghadapi dan memecahkan masalah pribadi-sosial, seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan.

Menurut pendapat Abu Ahmadi (1991:109) Bimbingan pribadi-sosial adalah seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat mengahadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya, mengadakan penyesuaian pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial, memilih jenis-jenis kegiatan sosial dan kegiatan rekreatif yang bernilai guna, serta berdaya upaya sendiri dalam memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan sosial yang dialaminya.

Inti dari pengertian bimbingan pribadi-sosial yang dikemukakan diatas adalah, bahwa bimbingan pribadi-sosial diberikan kepada individu, agar mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan pribadi-sosialnya seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan secara mandiri.

Adapun hal-hal yang dibahas dalam bidang bimbingan sosial adalah:

a. Tata tertib sekolah

b. Kemampuan berkomunikasi atau berpendapat

c. Pergaulan dengan teman sebaya didalam dan diluar sekolah serta masyarakat

Institusi-institusi pendidikan khususnya sekolah disamping sebagai pelaksana pendidikan namun juga bertindak memberikan pengajaran moral pada siswa. Pembentukan karakter siswa sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang berlaku pada suatu lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan mengemban tugas untuk melahirkan tunas-tunas bangsa yang gemilang, baik dalam segi prestasi maupun moralnya. Banyak sekolah yang telah berhasil mencetak siswanya menjadi orang-orang yang memiliki prestasi yang gemilang. Namun tak sedikit pula sekolah yang gagal  menanamkan nilai-nilai moral pada siswa yang berdampak pada kenakalan remaja.  Pengalaman menunjukkan kenakalan remaja disebabkan oleh masalah yang sangat kompleks. Dimana penyebab masalah yang satu mempengaruhi sebab masalah yang lain. Sering  pula kenakalan remaja  disebabkan karena para siswa tidak mendapatkan layanan bidang bimbingan sosial.

Bimbingan sosial yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang sangat penting, karena dengan layanan bimbingan sosial tersebut, diharapkan siswa :

a. Memiliki kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan secara efektif.

b. Memiliki kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif, dan produktif.

c. Memiliki kemampuan bersikap dalam berhubungan sosial, baik di rumah, sekolah, tempat bekerja maupun dalam masyarakat.

d. Memiliki  kemampuan pengembangan kecerdasan emosi dalam hubungan yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya baik di lingkungan sekolah yang sama maupun di luar sekolah.

e. Memiliki pemahaman tentang peraturan, kondisi sekolah dan upaya pelaksanaanya secara dinamis serta bertanggung jawab.

Layanan bidang bimbingan sosial yang diberikan pada siswa berupa:

1. Layanan informasi

Layanan informasi yang diberikan pada siswa terfokus pada:

a. Perkembangan remaja

b. Masalah-masalah yang sering dialami remaja

c. Kiat bergaul tanpa meninggalkan sopan santun

2. Layanan bimbingan kelompok

Layanan ini diberikan apabila situasi dan kondisi memungkinkan untuk dilakukan bimbingan kelompok.

3. Layanan konseling individu

Layanan konseling individu diberikan pada siswa yang mempunyai permasalahan kaitannya dengan masalah sosial khususnya gejala kenakalan remaja.

A.2 Pengertian Kenakalan Remaja

Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Hal hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang sering kita sebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial.

 

 

 

Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo, SH adalah :

a. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.

b. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.

c. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.

Menurut Sri Esti W. Djiwandon (2004: 112) Kenakalan remaja adalah suatu penyesuaian diri yaitu respon yang dipelajari terhadap situasi lingkungan yang tidak cocok atau lingkungan yang memusuhinya.

Kenakalan remaja dapat disebabkan oleh:

1. Identitas diri yang negatif

2. Kontrol diri yang rendah

3. Pengaruh pengawasan orangtua yang rendah

4. Pengaruh ketahanan diri yang rendah

5. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal

Kenakalan remaja merujuk pada tindakan pelanggaran suatu hukum atau peraturan oleh seorang remaja. Pelanggaran hukum atau peraturan bisa  termasuk pelanggaran berat seperti membunuh atau pelanggaran seperti membolos dan mencontek. Pembatasan  mengenai apa yang termasuk sebagai kenakalan remaja mungkin dapat dilihat dari tindakan yang diambilnya:

a. Tindakan  yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial karena bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada pada masyarakat. Seperti berkata-kata kasar kepada guru atau orangtua.

b. Tindakan pelanggaran ringan (status offenses). Seperti melarikan diri dari rumah, membolos dan semacamnya.

c. Tindakan  pelanggaran berat (index offenses). Tindakan pelanggaran berat merujuk pada semua tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja, seperti merampok, menodong, mencuri, memperkosa, menganiaya, serta penggunaan dan penjualan obat-obatan terlarang.

B. Dasar Pemikiran

Kenakalan remaja merupakan dampak dari persoalan yang dihadapi oleh remaja. Kenakalan remaja sendiri disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor  internal diantaranya adalah (1) Krisis identitas.
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. (2) Kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. Faktor eksternal diantaranya adalah (1) Keluarga. Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.          (2) Teman sebaya yang kurang baik. (3) Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Untuk itulah siswa membutuhkan pemberian layanan bimbingan bidang sosial. Karena dengan layanan bimbingan bidang sosial, siswa mendapatkan informasi tentang masa remaja, siswa dapat mengenal tentang perkembangan remaja, mengenal permasalahan remaja serta memecahkan masalah-masalah yang rentan terjadi pada remaja.

C. Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai rumusan jawaban atau kesimpulan sementara yang harus diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan penelitian.[1] Berdasarkan kajian teori dan dasar pemikiran diatas hipotesis dari penelitian ini adalah “Adanya Pengaruh Antara Pemberian Layanan Bidang Bimbingan Sosial Terhadap Penekanan Jumlah Kenakalan Remaja Siswa Kelas X-2 dan X-8 MAN Sumenep ”.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

“Variabel      adalah    objek    penelitian,    atau   apa   yang    menjadi     titik  perhatian suatu penelitian” (Arikunto, 1996:99). Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa variable merupakan objek yang bervariasi dan dapat  dijadikan   sebagai   titik   perhatian   suatu   penelitian.Dalam   penelitian   ini   ada   2 variabel, yaitu:

1.  Jenis variabel

Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu variabel   bebas   atau   variabel    independen      dan    variabel    terikat   atau   variabel dependen. Variabel tersebut adalah sebagai berikut.:

a. Variabel X

Variabel     X   atau   variabel   independen      adalah   variabel    yang   diteliti pengaruhnya   atau   variabel   yang   diduga   memberikan   suatu   pengaruh. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel X atau variabel independen adalah Layanan Bidang Bimbingan Sosial.

b. Variabel Y

Variabel       Y     atau    variabel     dependen       adalah     variabel     yang keberadaannya        tergantung    pada    variabel   lain.  Dalam   penelitian     ini yang menjadi variabel dependen adalah Kenakalan Remaja .

2.   Hubungan Antar Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah layanan bidang  bimbingan sosial   sebagai    variabel   bebas   dan   kenakalan    sebagai variable    terikat.  Karena     dalam    penelitian   ini  variabelnya     ganda   maka variable   yang   satu   mempunyai   hubungan   atau   pengaruh   dengan   variabel yang lain. Variabel X (variabel bebas) mempengaruhi variable Y (variabel terikat.). Dalam     penelitian   ini,  layanan  bidang   bimbingan sosial  sebagai variablel bebas diberikan dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas dalam meningkatkan hubungan sosial yang positif . Dengan demikian layanan   bidang   bimbingan    sosial mempunyai      pengaruh   terhadap variable   terikat  yaitu   berpengaruh   dalam   menekan jumlah kenakalan remaja. Hubungan      antar   varibel  X   dan  Y   dapat  dilihat  dalam  bentuk gambar sebagai berikut:

Gambar 1

Hubungan antar variabel

 

 

 

 

 

 

Hubungan antar variabel

Pada    penelitian   ini  hubungan    antar   variabel  adalah  hubungan positif,   dimana   semakin   sering dilakukan pemberian  layanan   bidang   bimbingan sosial maka kenakalan remaja  semakin menurun

B. Metode  dan Pendekatan Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan yaitu teknik penelitian eksperimen. Karena data variabel belum ada, maka digunakan rancangan eksperimen.

Penenelitian    ini  merupakan     penelitian   eksperimen    yang   bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian layanan bidang bimbingan sosial terhadap kenakalan remaja siswa kelas X-8 MAN Sumenep Tahun     ajaran   2010/2011.    Dengan    memberikan      bimbingan     sosial   dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan rencana penelitian yang telah ditentukan, diharapkan dapat diketahui seberapa besar pengaruh layanan bidang   bimbingan   sosial terhadap kenakalan remaja.

 

 

Desain Penelitian

Desain     penelitian  adalah   semua   proses   yang   diperlukan   dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dengan desain yang baik, maka pengaturan     variabel-variabel    dan   kondisi-kondisi    eksperimental     dapat dilaksanakan secara seksama.

Penelitian   yang   dilakukan untuk    mengetahui     pengaruh   layanan  bidang   bimbingan sosial pada siswa   akan   dilakukan   dengan   mengunakan jenis   Rancangan   True Experimental   atau   seringkali   dipandang   sebagai   eksperimen   yang   sudah baik    karena   sudah   memenuhi      persyaratan.   “Yang    dimaksud     dengan persyaratan   dalam   eksperimen   adalah   adanya   kelompok   lain   yang   tidak dikenai   eksperimen   dan   ikut   mendapatkan   pengamatan. Kelompok  lain yang disebut kelompok pembanding atau kelompok kontrol

Dalam      penelitian   ini,  peneliti  mengunakan    Rancangan       True Eksperimen karena dalam penelitian ini untuk memperoleh data dari suatu perlakuan (treatmen) mengunakan kelompok kontrol. Peneliti memberikan perlakuan     eksperimen   untuk kemudian mengobservasi   efek atau   pengaruh yang     terjadi  akibat  perlakuan    tersebut.   Dalam    penelitian   ini  perlakuan    yang     dilakukan     dengan     memberikan       layanan bidang bimbingan sosial . Pengaruh      atau   efek   pemberian      layanan    bidang bimbingan sosial diputuskan berdasarkan perbedaan jumlah kenakalan remaja kelompok     eksperimen      dengan    kelompok      kontrol.   Pengukuran pertama      diberikan    sebelum     diberikan     layanan    bidang  bimbingan      sosial dan  pengukuran      kedua   diberikan    sesudah    diberikan layanan bidang bimbingan sosial.

 

2. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Karena dalam penelitian ini akan dilihat presentasi jumlah kenakalan remaja yang ada di MAN Sumenep.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

a. Tempat  Penelitian

Tempat penelitian di MAN Sumenep. Peneliti memilih MAN Sumenep atau sederajat SMA karena masalah remaja di Sekolah Menengah Atas sangat kompleks di bandingkan Sekolah Menengah Pertama. Selain itu MAN tidak hanya mengajarkan pendidikan umum tetapi juga pendidikan agama yang lebih kompleks. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di MAN untuk mengetahui apakah dengan pendidikan agama  dapat menekan jumlah kenakalan remaja.

a. Waktu Penelitian

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

D. Populasi dan Sampel

a. Populasi

“Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian” (Arikunto,1996:115). “Populasi merupakan keseluruhan individu atau objek yang diteliti yang emiliki beberapa karakteristik yang sama”.(Latipun, 2002:29)

Populasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MAN Sumenep Tahun Ajaran 2010/2011. Berdasarkan  data  yang dimiliki oleh MAN Sumenep, jumlah Rombongan Belajar kelas X ada 10 rombongan belajar dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3

Jumlah Rombongan Belajar

MAN Sumenep

Tahun ajaran 2010/2011

No.

Kelas

Jumlah siswa

1.

X 1

35

2.

X 2

35

3.

X 3

36

4.

X 4

36

5.

X 5

36

6.

X 6

36

7.

X 7

35

8.

X 8

38

9.

X 9

36

10.

X 10

36

Jumlah

359

b. Sampel

Sampel      adalah     sebagian    atau    wakil    populasi    yang    diteliti  (Arikunto, 1996: 117), sampel yaitu sebagian dari populasi (latupun, 2002: 30). Jadi sample penelitian adalah objek yang dilibatkan langsung dalam   penelitian sesungguhnya yang dapat menjadi wakil populasi. Adapun pengambilan sample dengan cara Random Sampling. Teknik ini diberi nama demikian karena di dalam pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek-subjek dalam populasi dianggap sama. Adapun caranya adalah dengan pengambilan sampel 15 % dari jumlah populasi.

Berdasarkan penghitungan diatas jumlah sampel yang diambil dari penelitian ini sebanyak 54 siswa yang nantinya dipilih secara acak dengan melihat gejala kenakalan remaja pada siswa.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen tes bersifat mengukur, karena berisi pertanyaan atau pernyataan yang alternatif jawabannya memiliki standart jawaban tertentu, benar atau salah ataupun skala jawaban.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Lembar angket yang bertema tentang masalah-masalah remaja

2. Lembar angket yang bertema tentang manfaat pemberian layanan bidang bimbingan sosial khususnya layanan informasi dalam menuntaskan masalah remaja.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data

Untuk mendapatkan data penelitian, maka penulis menggunakan teknik penelitian yaitu:

Library Research

Library Research ini adalah telaah kepustakaan yaitu sebagai teknik pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku yang membahas masalah tersebut, dan juga ahli-ahli atau ilmuwan-ilmuwan yang ada kaitannya dengan pembahasan penulisan ini nantinya.

Field Research

Field Research adalah merupakan suatu telaahan yang dilakukan di lapangan, yaitu dengan terjun langsung ke lokasi sumber penelitian, sehingga data yang ditemukan lebih objektif. Maka untuk terlaksananya proses penelitian tersebut, dilakukan penelitian dengan menggunakan teknik:

Wawancara, yaitu penulis akan melakukan wawancara langsung  dengan konselor sekolah, dan siswa sehingga terkumpul data-data yang objektif untuk kajian tulisan ini.

Angket, yaitu penelitian penulis dalam bentuk tertutup, angket ini digunakan untuk mendapat jawaban yang berhubungan dengan pengaruh pemberian layanan bimbingan sosial sekolah terhadap kenakalan remaja. Sedangkan responden adalah seluruh siswa  yang menjadi sampel dalam penelitian ini.

Observasi yaitu ,mengadakan penelitian dengan cara melihat secara langsung terhadap objek-objek yang akan penulis teliti, yaitu gejala kenakalan remaja.

G. Teknik Analisis  Data

Peneliti akan membuat range kelas gejala kenakalan remaja. Peneliti mengamati jumlah kenakalan remaja sebelum dan setelah diberikan layanan bidang bimbingan sosial. Selain itu peneliti juga melakukan penilaian pemantapan pemahaman sosial pada siswa dengan menggunakan tes angket. Setelah semua data telah terkumpul,  maka penulis melakukan pengolahan data dengan cara menjumlahkan frekuensi jawaban setiap responden, kemudian menetukan persentase berdasarkan jawaban yang di berikan responden.

Teknik analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengolah data penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Oleh karena itu setelah   data   terkumpul   harus   segera   dilakukan   analisis   karena   apabila   data tersebut tidak dianalisis data tersebut tidak dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang sudah dirumuskan.

Analisis   data    dalam   penelitian   ini  bertujuan   untuk  menggambarkan     gejala kenakalan remaja pada siswa   sebelum     dan   sesudah    diberi  layanan    bidang      bimbingan      sosial dan    untuk    mengetahui      pengaruh pemberian  layanan     bidang bimbingan sosial dalam menekan jumlah kenakalan remaja pada siswa. Untuk  mengukur  pengaruh pemberian layanan bimbingan bidang sosial terhadap penekanan jumlah kenakalan remaja digunakan angket dengan skala pengukuran variabel yang mengacu pada Skala Likert., dimana masing-masing jawaban diberi kategori jawaban, yang masing-masing jawaban diberi score atau bobot yaitu banyaknya score antara 1 sampai 5 dengan rincian:

1. Jawaban SS sangat setuju diberi score 5

2. Jawaban S setuju diberi score 4

3. Jawaban R  ragu-ragu diberi score 3

4. Jawaban TS tidak setuju diberi score 2

5. Jawaban STS sangat tidak setuju diberi score 1 (Singarimbun, 1994:249)

Untuk menguji  signifikansi    perbedaan      mean     antar    kelompok eksperimen dan kontrol analisis data yang digunakan adalah uji t-tes. Uji t-tes digunakan untuk menguji siknifikansi perbedaan mean antara kelompok       eksperimen     dan   kelompok     kontrol.   Adapun     rumus    t-tes  adalah

sebagai berikut:

Keterangan

M         = rata-rata selisih nilai pretest-posttest per kelompok

∑x2 = deviasi nilai x (eksperimen)

∑y2 = deviasi nilai y (kontrol)

N          = jumlah anak per kelompok

Agar kesimpulan yang diambil tidak menyimpang maka syarat dari uji

t-tes adalah uji normalitas.

1.   Uji Normalitas.

Uji normalitas digunajkan untuk mengetahui distribusi data yang dapat

dari penelitian. Jika berdistribusi normal maka digunakan statistik parametrik.

Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan SPSS 10.0 (Statistic Product

and Seruice Solution). Data berdistribusi normal jika harga signifikansi lebih

besar dari 0,05 (5%).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta

Syaodih Sukmadinata Nana. 2009. Metode Penelitian Pendidikan, Cetakan Kelima. Bandung: Rosda

Ali Mohamad. 1982. Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi. Bandung: Angkasa

Juantika Nurihsan Achmad. 2007. Strategi Layanan Bimbingan & Konseling, Cetakan Kedua. Bandung: Refika Aditama

Hurlock B Elizabeth. 1997. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga

Sri Esti W. Djiwandon. 2004. Psikologi Pendidikan (Rev-2). Jakarta: Gramedia

Simandjuntak B. 1984. Psikologi Remaja. Bandung: Tarsito

Susanto AB. 2001. Potret-potret Gaya Hidup Metropolis. Jakarta : Kompas

John W. Santrock. 2003. Adolescence/ Perkembangan Remaja. Terj: Shinto B. Adelar; Sherly Saragih. Jakarta: Erlangga.

 


[1] Mohamad Ali, Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi. (Bandung:Angkasa), 1982, hal 52

NAMA

:

ADILAH

KELAS

:

IX-f

NAS

:

35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: