RUBRIK RENUNGAN

Pernikahan di Usia Dini

Oleh:

FIKE RALISTIYA

Zaman telah banyak membawa perubahan besar bagi dunia. Tak hanya dari sektor ekonomi melainkan termasuk didalamnya cara berpikir masyarakat yang mengalami peningkatan kearah yang lebih maju dan kritis.  Sebuah perubahan besar yang juga dapat diharapkan mampu mengubah nasib para wanita baik dari usia anak-anak hingga manula. Namun nyatanya, perubahan besar-besaran yang terjadi di dunia tak jua mampu mengubah kebiasaan dan pola pikir orang-orang yang masih lekat dengan tradisi yang kaku dan otoriter. Setidaknya gambaran inilah yang saya lihat dilingkungan tempat tinggal saya.

Kebiasaan menikahkan anak gadis dibawah usia pernihakan nyatanya masih tetap berkembang ditengah masyarakat kita. Khususnya daerah pinggiran dan pelosok.  Mereka masih memandang bahwa anak gadis masih belum layak untuk mendapatkan pendidikan setara dengan kaum pria.  Hal ini tentunya amat tidak dapat dibenarkan. Mengingat pemerintah pun telah mewajibkan pendidikan selama 12 tahun.  Dan lebih tragisnya lagi ada ungkapan “Untuk apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi bila pada akhirnya di dapurnya juga!!!”. Pernyataan ini cukup tegas disampaikan orangtua pada anaknya. Dan parahnya dilakukan secara berulang-ulang. Tanpa disadari oleh para orangtua ungkapan seperti ini amat menyakiti hati anak perempuannya. Para orangtua yang masih berpikiran dangkal dan kolot seringkali tak menyadari bahwa anak gadisnya pun memiliki mimpi dan harapan  untuk masa depannya. Mereka tak dapat melihat usaha anak gadisnya yang berusaha menjadi juara kelas hanya untuk menggugah hati orangtua nya agar terlepas dari jeratan pernikahan di usia dini. Pada akhirnya bukan para orangtua yang mengalah pada keinginan anaknya, melainkan sang anak lah yang terpaksa mengalah. Bukan karena mereka tak punya daya dan upaya, tetapi inilah wujud bakti mereka pada orangtua mereka. Lantas apakah para orangtua tak dapat melihat kenyataan  ini?.  Diatas  pelaminan dia mengumbar senyuman memperlihatkan kebahagiannya, namun dapatkah orangtuanya itu dapat merasakan jeritan tangis dari putrinya tersebut. Umumnya para orangtua yang tinggal di daerah pedesaan utamanya daerah terpencil menikahkan anaknya setelah anak gadis lulus SD atau sekitar usia 12 hingga 13 tahun. Padahal pada usia ini anak mencapai pada satu masa yang amat penting dalam hidupnya yakni memasuki masa remaja. Masa remaja sendiri terbagi atas dua masa yaitu masa remaja awal yang berkisar antara usia kurang lebih 13 tahun hingga 15 tahun dan masa remaja akhir antara usia 16 sampai 18 tahun.

Masa remaja merupakan periode penting bagi anak. Karena pada periode ini akan mempengaruhi langsung terhadap perubahan  sikap dan prilaku anak.

Masa remaja merupakan masa peralihan . Peralihan bukan berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Masa remaja merupakan peralihan masa kanak-kanak dan pubertas menuju masa dewasa.

Masa remaja sebagai periode perubahan. Sebenarnya setiap masa perkembangan juga selalu ditandai dengan perubahan. Karena pada dasarnya perkembangan adalah proses perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi pada masa remaja sangat berbeda dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fase perkembangan lainnya. Baik itu menyangkut ruang lingkup, tempo, dan akibat jangka panjang dari perubahan tersebut.

Masa remaja merupakan masa bermasalah. Setiap periode dalam perkembangan mempunyai masalah, namun masalah yang terjadi pada masa remaja berbeda. Baik itu dalam hal kualitas maupun kompleksitasnya.

Masalah-masalah yang pada umumnya terjadi pada masa remaja antara lain sebagai berikut:

◊        Masalah yang berhubungan dengan keadaan jasmaninya

◊        Masalah yang berhubungan dengan kebebasannya

◊        Masalah yang berhubungan dengan dorongan seksualnya

◊        Masalah yang berhubungan dengan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya

◊        Masalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial

◊        Masalah yang berhubungan dengan kemampuannya

Masa remaja merupakan masa yang tidak realistis. Remaja khususnya remaja awal, cenderung memandang kehidupan secara tidak realistis. Ia melihat dirinya, orang lain, serta fenomena lainnya, sebagaimana yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya.

Masa remaja merupakan masa mencari identitas. Adanya anggapan bahwa dirinya bukan lagi anak-anak, menyebabkan mereka berusaha meninggalkan prilaku dan sikap kekank-kanakannya untuk diganti dengan sikap dan prilaku yang lebih dewasa. Kedewasaan dalam konteks disini adalah kedewasaan menurut ukuran mereka, yang ternyata masih samar-samar.

Masa remaja merupakan ambang masa dewasa. Pada masa remaja, khususnya remaja akhir tanda-tanda kedewasaan dari segi sosial dan psikologis telah nampak dengan jelas.

Melihat penjelasan diatas mengenai masa remaja, tentu bukan hal mudah bagi anak untuk melewati masa remaja secara optimal. Dukungan orang-orang terdekat utamanya orangtua turut mempengaruhi tingkat kedewasaan anak. Dan pernikahan usia dini memutuskan tahapan yang secara alaminya dijalani oleh mereka. Pernikahan pada dasarnya memiliki tujuan yang mulia. Namun jika harus menyakiti dan merenggut keceriaan para anak gadis ini, apakah pernikahan itu tetap dipandang mulia. Pernikahan usia dini saja telah menghancurkan mimpi-mimpi para anak gadis ini, lantas dia masih harus dibebani memiliki keturunan di usianya yang masih sangat belia. Membina sebuah hubungan pernikahan bukan perkara mudah yang dijalaninya. Begitu banyak permasalahan rumah tangga yang tentu tak dapat dilakukan oleh tangan kecilnya. Jangankan dia yang masih berusia belia, orang dewasapun belum tentu sanggup menyelesaikan permasalahan-permasalahn yang cukup kompleks terjadi dalam sebuah rumah tangga. Sungguh amat disesali. Diusianya yang masih ingin sekolah dan bermain bersama anak seusianya, dia harus menjalani kerasnya hidup berumah tangga.

Tentu saja kita tak dapat sepenuhnya menyalahkan orangtua dalam permasalahan ini. pada kenyataannya, pendidikan memang masih terasa jauh bagi mereka yang hidup serba kekurangan. Akibatnya pernikahan inilah yang mereka anggap terbaik.  Tak dapat dipungkiri, semakin hari biaya pendidikan dinegara kita selalu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Masalah pernikahan dini yang dilakukan para anak gadis dibawah usia tak luput akibatnya pihak calon pengantin prianya pun menerima calon istri yang masih berusia belasan. Mereka bukannya menolak atau menunda pernikahn hingga dianggap cukup dan pantas pernikahan dilaksanakan, mereka malah mengiyakan. Hal inilah yang perlu mendapat pengertian lebih mendalam. Sehingga dalam kasus pernikahan dini, bukan hanya orangtua gadis yang perlu dapat pembinaan, melainkan juga pihak calon pengantin prianya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: