Kewirausahaan

Posted March 23rd, 2008 by erge

Pendahuluan.
Kondisi negara kita dimana semakin banyak orang terdidik, semakin banyak pula orang yang menganggur. Sebaliknya kemampuan pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan sangat terbatas. Oleh karenanya untuk mengatasi pengangguranyang semakin banyak harus dilakukan suatu usaha dengan harapan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat. Salah satu alternatif yang paling diharapkan dalam memberikan jalan keluar bagi masalah pengangguran adalah dengan wirausaha. Kejelian dalam melihat peluang usaha menjadi salah satu bekal bagi wirausahawan dalam memberikan lapangan pekerjaan Untuk itu sebagai seorang wirausahawan tentunya dituntut antara lain selalu bersifat kreatif, inovatif, berani mengambil resiko, percaya diri, bersemangat dan mampu memecahkan permasalahan. Berbekal dengan hal-hal tersebut maka seorang wirausaha dalam menjalankan usahanya, akan bertolak berupa tuntunan logika rasional, dan didasarkan atas pemahaman dari kekuatan intuisi profesional yang fleksibel. Kemajemukan pasar sebagai tempat menjual produk saat ini semakin menjadi pertimbangan bagi perusahaan karena pasar saat ini telah terbagi dalam segmen-segmenyang besaran range-nya sangat tergantung pada kegunaan produk bagi pasar itu sendiri.
Ketepatan pemilihan pasar sebagai salah satu upaya wirausahawan/entrepreneur mengembangkan bidang usahanya menjadi sangat penting dalam rangka kontinuitas keberadaan perusahannya. Oleh karena itu penulis akan mencoba mengangkat permasalahan ini sebagai bahan tulisan, seiring dengan perkembangan wirausaha maka penulis berusaha menggali lebih dalam kiat apayang dilakukan oleh seorang wirausaha dalam menjaring konsumen, agar kontinuitas perusahaan tetap terjaga.

Pengertian wirausaha
Dalam membuka usaha baru banyak unsur ketidakpastian antara ide wirausaha dengan peluang, ketidakpastian antar sumber daya dengan peluang dan ketidakpastian antara sumber daya dengan ide wirausaha. Oleh karena itu seorang wirausaha dituntut siap menghadapi tantangan dan mampu mengambil resiko, mempunyai sifat optimis serta sigap dalam pengambilan keputusan. Untuk memberi gambaran tentang wirausaha, penulis kemukakan pendapatdari Geoffrey G. Meredith et al. ”Para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses” sementara Howard H.Stevenson, mengatakan ”Kewirausahaan merupakan suatu pola tingkah laku manajerial terpadu dimana merupakan upaya pemanfaatan peluang-peluangyang tersedia tanpa mengabaikan sumber daya yang dimilikinya”. Dan H. Leibenstein mendifinisikan entrepreneur sebagai seorang atau sekelompok individu yang memiliki karakteristik, mampu menggandengkan peluang-peluang menjadi pasar, mampu memperbaiki kelemahan pasar, bisa menjadi seorang input complementer, dapat menciptakan atau memperluas time bending dan input transforming entitities. Dengan mengacu pada beberapa pengertian tersebut jelas bahwa seorang intrepreneur atau wirausaha dituntut mempunyai ciri-ciri tertentuyang dapat menunjang keberhasilannya dalam menekuni dunia usaha.

Karakteristik seorang wirausahawan
Seorang entrepreneur memiliki kecenderungan sifat sebagai berikut;
? Percaya diri
Entrepreneur/wirausahawan memiliki kepribadian yang mantap, tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain, memiliki optimisme tinggi atas keputusan yang diambilnya.
? Berorientasi pada tugas dan hasil
Dalam bekerja selalu mendahulukan hasil kerja atau prestasi, tidak malu atau gengsi dalam melakukan pekerjaan. Memiliki tekad yang kuat dalam bekerja.
? Berani mengambil resiko
Wirausahawan tidak takut menjalani pekerjaan dengan resiko besar selama mereka telah memperhitungkannya akan berhasil mengatasi resiko itu. Mereka menyadari bahwa prestasi besar hanya mungkin dicapai jika mereka bersedia menerima resiko sebagai konsekuensi terwujudnya tujuan.
? Kepemimpinan yang baik
Seorang entrepreneur selalu dapat menyesuaikan diri dengan organisasi yang dipimpinnya, berpikiran terbuka dengan mau mendengar kritik dan saran dari bawahan, dan bersifat responsif terhadap masalah-masalah yang dihadapi.
? Originalitas
Entrepreneur tidak mau mengekor pada keberhasilan orang lain tapi justru menemukan sesuatu yang baru, mereka kreatif dan inovatif dan mampu mewujudkan ide-ide yang muncul.
? Berorientasi ke masa depan (memiliki visi masa depan)
Entrepreneur selalu tahu bagaimana mengembangkan bidang usahanya di masa depan tentunya agar kontinuitasnya tetap terjaga.

Seorang entrepreneur dituntut untuk kreatif, karena kreativitas inilah seorang entrepreneur dapat memberikan pilihan-pilihan baru yang belum sempat dipikirkan orang. Kreatif dari akronimnya sendiri dapat diartikan sebagai Keinginan untuk maju, Rasa ingin tahu yang kuat, Enthusiasm (antusiasme/semangat ) yang besar, Analisis yang sistematis, Terbuka untuk menerima saran dan pendapat orang lain, Inisiatif yang menonjol, berani mengambil keputusan dan langkah yang berbeda dari orang lain, dan Pikiran yang terkonsentrasikan pada satu pokok pemikiran.

? Keinginan untuk maju ? Sebagai pembangkit motivasi untuk meraih kesempatan, dan membentuk pribadi yang tidak mudah menyerah.
? Rasa ingin tahu yang kuat ? mencari sumber informasi, dengan membaca, bertanya pada orang yang berpengetahuan dan berpengalaman dalam bidang profesi dan pengetahuan.
? Enthusiasm ( semangat ) ? semangat dalam menjalankan pekerjaan merupakan pendorong motivasi untuk mencapai keberhasilan. Semangat harus tetap dijaga karena dengan menurunnya semangatakan berdampak turunnya target kerja yan telah ditetapkan.
? Analisis yang sistematis ? Sebelum mengawali pekerjaan yang berorientasi hasil, diperlukan analisis yang sistematis agar segala sesuatu yang berhubungan dengan target dapat diprediksikan.
? Analisis meliputi :
o Jangka waktu yang harus ditetapkan
o Biaya yang diperlukan
o Jumlah dan jenjang profesi personel yang akan ditugasi melaksanakan pekerjaan
o Kemungkinan hasil akhir yang ingin dicapai
o Dampak yang dapat terjadi karena pelaksanaan pekerjaan
? Terbuka menerima saran dan masukan dari pihak lain ? Menyadari bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dalam pengetahuan dan pengalaman tertentu, sikap terbuka merupakan akses bagi pengetahuan yang memperkaya wawasan
? Inisiatif yang menonjol ? Inisiatif adalah upaya untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau mewujudkan suatu ide . Keberanian menawarkan inisiatif pada saat kritis pada suatu kondisi sangat diperlukan dalam kehidupan organisasi.
? Pikiran yang terkonsentrasi ? Memusatkan pikiran pada suatu hal bukan hal yang mudah. Mengkonsentrasikan pikiran dapat dipelajari, dan tingkat keberhasilannya ditentukan oleh kemempuan memilih problem dalam tata urutan berdasar urgensi.

Ciri seorang entrepreneur yang selalu berorientasi pada hasil memberikan sifat dimana mereka akan mengenali dulu kondisi bidang usaha; peluang yang tersedia, target pasar dari produknya, hambatan-hambatan yang mungkin terjadi dan bagaimana cara-cara untuk mengatasi hambatan-hambatan itu.

Memperkirakan Hambatan Yang akan dihadapi
Hambatan usaha sebetulnya telah diperkirakan sejak usaha dimulai namun dalam kondisi yang tidak menentu dan diluar jangkauan pemikiran kita hal-hal tersebut bisa juga terjadi, apa sebabnya dan bagaimana menyikapinya perlu kita telusuri dan tanggulangi.
Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kebuntuan usaha antara lain :
a. Kurangnya persiapan atau perencanaan.
Dalam suatu usaha bahwa perencanaan yang matang mutlak diperlukan, tanpa perencanaan yang baik mungkin kondisi tertentu akan sulit dihindari. Membuka usaha tertentu harus ada target yang hendak dicapai, strategi apa yang akan diterapkan, bagaimana mengantisipasi kemungkinan hambatan yang muncul secara tiba-tiba, serta cara atau strataegi untuk mengatasinya. Rencana sebenarnya ibarat sebuah peta yang menunjukkan jalan-jalan yangakan dilalui dan gambaran secara keseluruhan lika-liku yang dihadapi, dengan demikian perencanaan yang matang merupakan tuntunan mencapai sasaran yang diharapkandari usaha yang dilakukan.
b. Kurang atau lemahnya pengetahuan yang kita miliki.
Pemahaman kita tentang sesuatu usaha patut kita pertanyakan sudah cukupkah pengetahuan kita tentang seluk beluk usaha yang akan kita geluti. Jangan sekali-kali melakukan usaha tertentu tanpa pengetahuan yang memadai, resikonya terlalu besar dan mungkin kita akan membayar jauh lebih mahal, yakni ancaman kemandegan dan kegagalan usaha yang telah dirintis sementara modal dan pengorbanan yang sudah terlanjur besar.
c. Kurangnya sarana dan fasilitas usaha.
Sarana dan prasarana usaha merupakan faktor pendukung kegiatan usaha, terabaikannya kesiapan fasilitas atau instrumen dalam mendukung suatu usaha berupa modal, alat-alat produksi, lingkungan yang kondusif akan menghambat aspek produksi dan menurunkan daya saing termasuk kinerja para karyawan atau dengan kata lain menjadi faktor penting dan berpengaruh besar dalam mencapai sasaran atau tujuan dari usaha kita.
d. Kurang disiplin atau tidak konsisten dalam menjalankan usaha.
Dalam memulai suatu usaha atau untuk mencapai sesuatu harus dilakukan secara totalitas, penuh perhatian dan konsisten terhadap seluruh aspek yang mendukungnya, ketidakkonsistennya terhadap masalah yang dihadapi baik dalam pengambilan keputusan, melihat peluang pasar maupun mutu produk merupakan salah satu penyebab dari kebuntuan dan kegagalan suatu usaha.
e. Akibat kondisi tertentu.
Terjadinya kondisi yang tidak menentu sehingga iklim usaha sangat sulit baik akibat langkanya bahan dasar, kebijakan perdagangan yang kurang memihak usaha kita, Persaingan yang tidak sehat serta situasi lain yang berakibat pada hilangnya peluang untuk mengembangkan usaha sehingga usaha kita tidak dapat berkembang dan bahkan menjurus kepenutupan usaha.
f. Terjadinya situasi beresiko.
Suatu situasi yang memaksa membuat pilihan antara dua alternatif atau lebih, dimana hasilnya tidak bisa diketahui dan harus dinilai secara obyektif. Situasi ini mengandung kegagalan atau sukses

Kondisi-kondisi tersebut merupakan sebagian dari penyebab suatu kemandegan usaha atau justru menimbulkan kegagalan usaha. Kekuatiran terjadinya kebuntuan dan kemandekan usaha merupakan kondisi alamiah yang bisa terjadi kepada siapa saja hendaknya disikapi secara wajar dan berupaya mengetahui permasalahannya untuk dicarikan jalan keluarnya, jiwa entrepreneur yang ada harus ditumbuh kembangkan jangan terkungkung pada kekuatiran tanpa adanya keberanian menjemput tantangan dalam berusaha.

Mengatasi Hambatan Yang Dihadapi
Sebagai modal agar kita bisa mengatasi kemandegan usaha, salah satu bekal yang harus dimiliki seorang entrepeneur adalah memiliki kemampuan dalam mengenali pasar potensial sebagai sasaran produknya. Karena bukan hal yang mudah untuk membuat masyarakat yang memiliki beranekaragam selera, gaya hidup, kondisi keuangan, lokasi tempat tinggal dan perbedaan-perbedaan lain, untuk menyukai dan membeli produk yang dihasilkan. Penentuan segmen pasar ini menjadi penting karena dengan hal ini maka usaha akan bisa berjalan dengan lebih efektif (tepat sasaran), efisien (hemat) dan membuat orang akan mengingat perusahaan karena spesialisasi tersebut.
Banyak perusahaan menawarkan produk-produk yang baik. Namun produk-produk tadi hanya sedikit saja yang akan terjual, bila wirausaha tidak dapat memanfaatkan peluang pasar. Faktor-faktor yang ada kaitannya dengan menilai peluang-peluang pasar baru meliputi ; riset pasar, pengumpulan data dari berbagai sumber dan memilih lokasi bisnis.

– Riset pasar
Riset pasar dapat membuat keputusan pemasaran yang lebih baik dan bertujuan untuk mengumpulkan informasi dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu riset pasar dapat membantu untuk :
? Menemukan pasar yang menguntungkan, dalam arti dapat membantu menemukan pasar baru yang dapat dimasuki, dan menemukan pelanggan baru dalam pasar, sehingga diharapkan dengan melakukan riset pasar dapat mengetahui tentang produk yang mempunyai potensi untuk masa depan.
? Memilih produk yang dapat dijual, dalam arti agar produk dapat terjual tepat sasaran maka produk yang dibuat benar-benar dibutuhkan oleh para konsumen.
? Menentukan perubahan dalam perilaku konsumen, perilaku konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ; budaya, sosial, pribadi dan psikologis. Memahami perilaku konsumen dan mengenal pelanggan bukan masalah yang sederhana. Para pelanggan mungkin menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka namun bertindak sebaliknya. Hal ini kemungkinan pelanggan tidak memahami motivasi mereka yang lebih dalam. Untuk memahami motivasi pelanggan maka perusahaan harus mempelajari pelangaan dengan harapan dapat memberikan petunjuk bagi pengembangan produk, harga saluran pemasaran, dan unsur bauran pemasaran lainnya.
? Meningkatkan teknik-teknik pemasaran
? Merencanakan sasaran-sasaran yang realistik.

– Pengumpulan data dari berbagai sumber
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan observasi di lingkungan sekitar, dengan memahami trend kita dapat mendapatkan informasi tentang kebutuhan calon konsumen dan tentunya akan didapatkan juga gambaran pasar yang dapat menjadi target produk. Cara lainnya adalah dengan melakukan riset kecil yang didasarkan pada observasi pada pelaku-pelaku usaha lain sehingga dapat dibandingkan antara data dari objek satu dengan lainnya dan dapat ditarik kesimpulan akan kondisi usaha ataupun pasar sehingga wirausahawan dapat menentukan target pasar yang dibidik.

– Memilih lokasi bisnis
Lokasi tempat usaha menjadi pilihan krusial karena akan menentukan apakah bidang usaha yang dipilih daat berkembang dengan baik atau justru akan terpuruk. Produk yang diberikan suatu bidang usaha akan banyak dikenal bahkan diminati konsumen jika lokasi usaha terletak dekat dari lingkungan mereka. Sebagai contoh bidang usaha Rumah Makan dengan target para pekerja kantor akan banyak diminati jika lokasinya dekat dengan gedung perkantoran, atau sebuah Café dengan konsep alam akan diminati jika terletak di tempat berpanorama indah dan berudara cukup sejuk. Untuk usaha franchise, franchisor umumnya menerapkan beberapa strategi lokasi, outlet ditempatkan diantara toko-toko sejenis, serupa tapi tak sama dengan produk yang dijual toko lain, atau franchisor justru tidak mau bersaing langsung tetapi menempatkan outet di tempat lain yang mandiri sehingga konsumen tidak ragu untuk memilih datang kesana. Penentuan lokasi bisnis ditentukan setelah pasar sasaran telah ditentukan agar efektif dan efisien.

Ciri lain seorang entrepreneur yang khas dan merupakan sifat khususnya adalah selalu melihat peluang yang dapat dimanfaatkan. Sifat kreatif ini dapat pula diterapkan dalam menganalisis pasar yang berubah. Minat pasar yang berubah, atau adanya potensi pasar yang baru menjadi tantangan tersendiri yang harus diatasi oleh seorang entrepreneur/wirausahawan. Sebagai contoh keberhasilan entrepreneur mengatasi perubahan potensi pasar. Estee Lauder, Maybelline, dan raksasa kosmetika lain mulai mengarahkan sasaran pada kaum Afrika-Amerika dengan lini produk yang khusus dirancang untuk kulit yang lebih gelap. Pada musim gugur 1992, Prescriptives, anak perusahaan Estee Lauder, meluncurkan lini ”All Skins”-nya yang menawarkan 115 warna alas bedak. Eksekutif senior menyatakan bahwa All Skins meningkatkan 45 % penjualan Prescriptives sejak lini baru tersebut diluncurkan. Penjualan Shades of You sari Maybelline, lini kosmetik lain untuk Afrika-Amerika, mencapai $15 juta dalam 10 bulan pertamanya di pasar. Mereka mulai memproduksi kosmetika yang khusus diperuntukkan wanita denga kulit lebih gelap karena melihat peluang baru dari kaum wanita Afrika-Amerika yang secara ekonomi mulai mapan sejak tahun awal 1990-an.

Penutup
Dalam mengatasi tantangan lapangan kerja yang belum bisa dipenuhi pemerintah, dibutuhkan entrepreneur-entrepreneur yang mampu memberikan solusi bidang-bidang usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja. Seorang entrepreneur memiliki sifat kreatif dan jeli melihat peluang juga memiliki karakter percaya diri, berorientasi pada hasil, berani mengambil resiko, seorang pemimpin yang baik, originalitas ide yang terjaga, dan memiliki visi masa depan, harus dapat memahami peluang, tantangan dan hambatan yang mungkin dihadapi oleh usaha yang dikembangkannya.
Maka dengan memahami hambatan akan dapat mempersiapkan langkah-langkah untuk mengatasinya, salah satunya dengan mengenali segmen pasar yang baru untuk pemasaran produk agar kontinuitas perusahaan tetap terjaga. Untuk mengenali pasar baru dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor ; riset pasar, pengumpulan data dari berbagai sumber dan memilih lokasi bisnis.

Daftar Pustaka
Meredith, Geoffrey G., Nelson, Robert E., Neck, Phllip A.. Kewirausahaan. Teori dan Praktek (The Practice of Entrepreneurship). Penerbit PPM. 2002
Pietra Sarosa. Kiat Praktis Membuka Usaha, Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses. Elex Media Komputindo. 2004
Mas’ud Machfoedz, Mahmud Machfoedz. Kewirausahaan. Metode, Manajemen dan Implementasi. BPFE-Yogyakarta. 2005
Ryanto Hadi Prayitno. Kewirausahaan. STIA Bagasasi. 2003
Kotler, Phillip. Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol. PT. Prenhallindo. 1997

Pengertian Kewirausahaan berasal dari kata enterpteneur yang berarti orang yang membeli barang dengan harga pasti meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang yang akan dijual. Wirausaha sering juga disebut wiraswasta yang artinya sifat-sifat keberanian, keutamaan, keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. Meski demikian wirausaha dan wiraswasta sebenarnya memiliki arti yang berbeda . Wiraswasta tidak memiliki visi pengembangan usaha sedangkan wirausaha mampu terus berkembang dan mencoba usaha lainnya.

Istilah lainnya yang semakna dengan wirausaha adalah wiraswasta. Istilah wiraswasta lebih sering dipakai dan lebih dikenal daripada wirausaha. Padahal, keduanya bermakna sama dan merupakan padanan dari kata entrepreneur. Kata wiraswasta berasal dari gabungan wira-swa-sta dalam bahasa sansekerta. Wira berarti utama, gagah, luhur, berani, teladan, atau pejuang; swa berarti sendiri atau mandiri; sta berarti berdiri; swasta berarti berdiri ditas kaki sendiri atau dengan kata lain berdiri di atas kemampuan sendiri.

Sedangkan wirausahawan mengandung arti secara harfah, wira berarti berani dan usaha berarti daya upaya atau dengan kata lain wirausaha adalah kemampuan atau keberanian yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih kesuksesan.

Berdasarkan makna-makna tersebut, kata wiraswasta atau wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani dan pantas menjadi teladan di bidang usaha. Dengan kalimat lain, wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat kewiraswastaan atau kewira-usahaan. Ia bersikap berani unuk mengambil resiko. Ia juga memiliki leutamaan, kreatifitas, dan teladan dalam menangani usaha atau perusahaan. Keberaniannya berpijak pada kemampuan sendiri atau kemandiriannya.

Pengertian lainnya menyebutkan kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi. Raymond dan russel memberikan definisi tentang wirausaha dengan menekankan pada aspek kebebasan berusaha yang dinyatakannya sebagai berikut : An entrepreneur is an independent growth oriented owner operator. Menurut Gede Pratama, ada beberapa sifat dasar yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha diantaranya :

  1. Wirausaha adalah seorang pencipta perubahan (the change creator)
  2. Wirausaha selalu melihat [erbedaan sebagai peluang
  3. Wirausaha selalu bereksperimen dengan pembaharuan
  4. Wirausaha adalah seorang pakar tentang dirinya
  5. Wirausaha melihat pengetahuan dan pengalaman hanyalah alat untuk memacu kreativitas
  6. Wirausaha berani memaksa diri untuk menjadi pelayan bagi orang lain

Sedangkan menurut Robin, kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluang-peluang memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi tanpa memperhatikan sumber daya yang mereka kendalikan. Wirausahawan atau entrepreneur juga diartikan sebagai seorang penemu bisnis yang sama sekali baru dan mampu mengembangkan menjadi perusahaan yang mencapai kesuksesan. Contohnya adalah Microsoft, Wal-Mart, dan Aqua. Seseorang entrepreneur memiliki cirri-ciri diantaranya:

  1. focus yang terkendali
  2. berenergi yang tinggi
  3. kebutuhan akan prestasi
  4. bertoleransi terhadap keraguan
  5. percaya diri
  6. berorientasi terhadap tindakan.

Para wirausahawan adalah orang-orang yang mengetahui bagaimana menentukan keputusan dalam pekerjaan dan bagga terhadap prestasinya. Menurut Joseph Schumpeter menyebutkan , “entrepreneur is the person who perceives an opportunity and creates an organization to pursue it. “ (bygrave, 1994:2). Dengan kata lain, seseorang wirausahawan atau entrepreneur harus memiliki dorongan yang kuat untuk mencapai keberhasilan. David Mc. Clelland berpendapat, ada sifat yang baku dalam diri seriap manusia, yaitu : need of power, need of affiliation, and need of achievement.

Pada abad ke-20, konotasi dari entrepreneur yang berarti innovator mulai dikenal. Inovasi adalah kegiatan memperkenalkan sesuatu yang baru, yang merupakan tugas seseorang entrepreneur sebagai sebuah proses dinamis dalam meningkatkan kesejahteraan.

Perkembangan definisi mengarahkan pada definisi baru “perilaku berpikir strategis dan pengambilan resiko yang dilakukan oleh individu maupun organisasi”. Definisi ini memberikan penjelasan bahwa definisi entrepreneur adalah indivisu yang mengambil segala resiko untuk mengejar dan menjangkau peluang serta situasi yang berbeda dengan kemungkinan kegagalan dan ancaman serta hambatan.

Pada Negara yang berkembang, motivasi menguasai bisnis sangat penting untuk menunjang daya saing yang kompetitif. Setelah itu, barulah kemudian menumbuhkan motivasi yang berkumpul, yaitu keinginan untuk saling berbagi informasi melalui kelompok-kelompok tertentu agar timbul peluang dan kesempatan dalam berusaha. Agar peluang tersebut terlaksana, harus dibangun kehausan akan prestasi, diantaranya, menggerakkan diri sendiri sehingga timbul keinginan untuk berwirausaha. Untuk tugas kuliah Heru Cahyono Accounting Academy Muhammadiyah Klaten

Diposkan oleh Heru Cahyono di 10/17/2009 12:07:00 AM

Reaksi:

Label: Pendidikan

Definisi Kewirausahaan

Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses.

Kewirausahaan adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Daya kreatifitas tersebut sebaiknya adalah dilAndasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar.

Gagasan-gagasan yang kreatif  umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru sering kali ide-ide jenius yang memberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.

Namun,gagasan-gagasan yang baikpun, jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, hanya akan menjadi sebuah mimpi. Gagasan-gagasan yang jenius umumnya membutuhkan daya inovasi yang tinggi
dari wirausahawan yang bersangkutan. Kreativitas yang tinggi tetap membutuhkan sentuhan inovasi agar laku di pasar.

PENGERTIAN WIRAUSAHA DAN KEWIRAUSAHAAN

Bagikan

15 April 2009 jam 18:36

Dulu kita mengenal istilah wiraswasta (entrepreneur) untuk menyebutkan orang yang bergerak di bidang usaha/bisnis atau sebagai pengganti sebutan pengusaha, sehingga kegiatan-kegiatan dalam bidang usaha yang dilakukan oleh para wiraswasta disebut sebagai kewiraswastaan (entrepreneurship).Namun dewasa ini istilah wiraswasta sudah jarang digunakan dan tersisih oleh istilah wirausaha (entrepreneur) dan kewirausahaan (entrepreneurship).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata wiraswasta dan wirausaha diartikan sebagai orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.
Dalam prakteknya, ada yang berpendapat bahwa arti wiraswasta berbeda dengan wirausaha. Hal ini dikaitkan dengan arti kata asalnya, wira (utama,penjuang,gagah,berani,keteleladanan, jujur) dan swasta (swa=sendiri, sta=berdiri).Berdasarkan arti masing-masing suku katanya maka wiraswasta diartikan sebagai orang yang memiliki sifat keutamaan, keteladanan, kejujuran, dan keberanian dalam mengambil risiko berdasarkan kemampuan sendiri………..(Bab. 1 hal.1,Kewirausahaan,Mudie Khalia dan Mutie Khania, Wahana Bina Prestasi)

 

Pertemuan Ke II

Proposal penelitian


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-unhide:no;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

BAB I

P E N D A H U L U A N

A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Masa remaja sendiri terbagi atas dua masa yaitu masa remaja awal yang berkisar antara usia kurang lebih 13 tahun hingga 15 tahun dan masa remaja akhir antara usia 16 sampai 18 tahun.Masa remaja merupakan periode penting bagi anak. Karena pada periode ini akan mempengaruhi langsung terhadap perubahan  sikap dan prilaku anak.

Masa remaja merupakan masa peralihan. Peralihan bukan berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Masa remaja merupakan peralihan masa kanak-kanak dan pubertas menuju masa dewasa.

Masa remaja sebagai periode perubahan. Sebenarnya setiap masa perkembangan juga selalu ditandai dengan perubahan. Karena pada dasarnya perkembangan adalah proses perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi pada masa remaja sangat berbeda dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fase perkembangan lainnya. Baik itu menyangkut ruang lingkup, tempo, dan akibat jangka panjang dari perubahan tersebut.

Masa remaja merupakan masa bermasalah. Setiap periode dalam perkembangan mempunyai masalah, namun masalah yang terjadi pada masa remaja berbeda. Baik itu dalam hal kualitas maupun kompleksitasnya.

Masalah-masalah yang pada umumnya terjadi pada masa remaja antara lain sebagai berikut:

Masalah yang berhubungan dengan keadaan jasmaninya

Masalah yang berhubungan dengan kebebasannya

Masalah yang berhubungan dengan dorongan seksualnya

Masalah yang berhubungan dengan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya

Masalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial

Masalah yang berhubungan dengan kemampuannya

Masa remaja merupakan masa yang tidak realistis. Remaja khususnya remaja awal, cenderung memandang kehidupan secara tidak realistis. Ia melihat dirinya, orang lain, serta fenomena lainnya, sebagaimana yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya.

Masa remaja merupakan masa mencari identitas. Adanya anggapan bahwa dirinya bukan lagi anak-anak, menyebabkan mereka berusaha meninggalkan prilaku dan sikap kekanak-kanakannya untuk diganti dengan sikap dan prilaku yang lebih dewasa. Kedewasaan dalam konteks disini adalah kedewasaan menurut ukuran mereka, yang ternyata masih samar-samar.

Masa remaja merupakan ambang masa dewasa. Pada masa remaja, khususnya remaja akhir tanda-tanda kedewasaan dari segi sosial dan psikologis telah nampak dengan jelas.

Remaja yang gagal melewati masa ini tak jarang terjebak dalam perkembangan psikis yang tidak sehat. Bahkan seringkali menimbulkan masalah baru, salah satunya adalah kenakalan remaja.

Kenakalan remaja sendiri disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor  internal diantaranya adalah (1) Krisis identitas.
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. (2) Kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. Faktor eksternal diantaranya adalah             (1) Keluarga. Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. (2) Teman sebaya yang kurang baik. (3) Komunitas/ lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Melihat penjelasan diatas mengenai masa remaja, tentu bukan hal mudah bagi anak untuk melewati masa remaja secara optimal. Dukungan orang-orang terdekat utamanya orangtua dan guru pembimbing (konselor) turut mempengaruhi tingkat kedewasaan anak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari perkembangan yang kurang baik terhadap siswa kaitannya dengan kenakalan remaja yaitu dengan pemberian layanan bimbingan sosial pada siswa.

Pelayanan        bimbingan       dan    konseling     di SMA/ sederajat     meliputi     bidang bimbingan   pribadi,   bidang   bimbingan   sosial,   bidang  bimbingan   belajar   dan bidang bimbingan karier.  Salah satu bidang bimbingan yang membantu siswa dalam mengenal lingkungan dan mengembangkan diri dalam hubungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan yaitu bidang bimbingan sosial.

Bidang bimbingan sosial sendiri dapat diartikan sebagai pemberian bantuan pada siswa untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang rentan terjadi pada diri individu. Sehingga mampu menjadi pribadi yang mandiri dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Bidang bimbingan sosial bertujuan; 1. Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan secara efektif. 2. Pemantapan kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif, dan produktif. 3. Pemantapan kemampuan bersikap dalam berhubungan sosial, baik di rumah, sekolah, tempat bekerja maupun dalam masyarakat. 4. Pemantapan kemampuan pengembangan kecerdasan emosi dalam hubungan yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya baik di lingkungan sekolah yang sama maupun di luar sekolah. 5. Pemantapan pemahaman tentang peraturan, kondisi sekolah dan upaya pelaksanaanya secara dinamis serta bertanggung jawab.

Belakangan ini sering kita jumpai siswa SMA/ sederajat  melakukan tindakan anarki seperti perusakan gedung sekolah, menjadi anggota geng motor yang tak jarang membuat keonaran, minum alkhohol, merokok.  Kenyataan tersebut mendorong peneliti untuk secara khusus memberikan layanan bimbingan sosial dalam bentuk sosialisasi guna membuktikan adanya pengaruh pemberian  layanan bidang bimbingan sosial terhadap tingkat kenakalan remaja yang belakangan ini kerap kali menjadi topik pembicaraan di berbagai pemberitaan media.

Fenomena di atas mendorong peneliti  untuk melakukan penelitian tentang            “PENGARUH PEMBERIAN  LAYANAN BIDANG BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS X-2 DAN X-8 MAN SUMENEP TAHUN AJARAN 2010/2011”.

B. Identifikasi Masalah

“PENGARUH PEMBERIAN  LAYANAN BIDANG BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS X-2 DAN X-8 MAN SUMENEP TAHUN AJARAN 2010/2011””.

Dari judul tersebut, bagi peneliti yang memiliki wawasan luas, tidak hanya mengungkap pengaruh layanan bidang sosial, melainkan juga peran atau pengaruh           “Informasi Perkembangan Remaja” dan “Pengenalan Masalah-Masalah Remaja”. Sebab informasi perkembangan remaja dan pengenalan masalah-masalah remaja sangat erat kaitannya dalam “Layanan Bidang Sosial”.

Berdasarkan dari penjelasan diatas permasalahan yang timbul dapat di identifikasikan sebagai berikut:

1. Pemberian informasi perkembangan remaja  kepada siswa diperkirakan berpengaruh terhadap gejala kenakalan remaja.

2. Pengenalan masalah-masalah remaja kepada siswa diperkirakan berpengaruh terhadap gejala kenakalan remaja.

3. Pemberian layanan bidang sosial kepada siswa diperkirakan berpengaruh terhadap kenakalan remaja.

C. Pembatasan Masalah

Sehubungan ada berbagai masalah yang timbul maka perlu dibatasai dengan maksud untuk menghindari salah tafsir dan untuk memperjelas permasalahan agar pengkajiannya lebih mengena pada sasaran yang hendak dituju dengan membatasi masalah-masalah yang ada yaitu:

1. Pemberian layanan bidang sosial

2. Kenakalan Remaja

3. Di MAN Sumenep  Siswa   Kelas  X Tahun Ajaran 2010/2011.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas beberapa permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Adakah pengaruh antara pemberian layanan bidang sosial terhadap kenakalan remaja”

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari permasalahan di atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

“Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian layanan bimbingan sosial terhadap kenakalan remaja.”

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti, dapat menambah pengalaman dan keterampilan cara meminimalisasi tingkat kenakalan remaja  melalui pemberian layanan bimbingan sosial.

b. Bagi sekolah, dapat dijadikan acuan atau pedoman untuk memberikan rekomendasi kepada guru-guru yang lain dalam pemberian bimbingan sosial kepada siswa.

2. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya layanan pembelajaran bidang bimbingan sosial dalam Bimbingan dan Konseling.

b. Dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti selanjutnya pada kajian yang sama tetapi pada ruang lingkup yang lebih luasdan mendalam di bidang bimbingan sosial.

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

A.1 Pengertian Layanan Bidang Bimbingan Sosial

Bimbingan konseling dibedakan menjadi empat bidang bimbingan  yaitu:

a. Bimbingan pribadi

b. Bimbingan sosial

c. Bimbingan belajar

d. Bimbingan karir

Berdasarkan teori lama bimbingan pribadi masih dijadikan satu dengan bimbingan sosial. Karena masalah sosial tidak lepas dari masalah pribadi individu.

Menurut Dewa Ketut Sukardi (1993:11) mengungkapkan bahwa bimbingan pribadi sosial merupakan usaha bimbingan, dalam menghadapi dan memecahkan masalah pribadi-sosial, seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan.

Menurut pendapat Abu Ahmadi (1991:109) Bimbingan pribadi-sosial adalah seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat mengahadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya, mengadakan penyesuaian pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial, memilih jenis-jenis kegiatan sosial dan kegiatan rekreatif yang bernilai guna, serta berdaya upaya sendiri dalam memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan sosial yang dialaminya.

Inti dari pengertian bimbingan pribadi-sosial yang dikemukakan diatas adalah, bahwa bimbingan pribadi-sosial diberikan kepada individu, agar mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan pribadi-sosialnya seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan secara mandiri.

Adapun hal-hal yang dibahas dalam bidang bimbingan sosial adalah:

a. Tata tertib sekolah

b. Kemampuan berkomunikasi atau berpendapat

c. Pergaulan dengan teman sebaya didalam dan diluar sekolah serta masyarakat

Institusi-institusi pendidikan khususnya sekolah disamping sebagai pelaksana pendidikan namun juga bertindak memberikan pengajaran moral pada siswa. Pembentukan karakter siswa sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang berlaku pada suatu lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan mengemban tugas untuk melahirkan tunas-tunas bangsa yang gemilang, baik dalam segi prestasi maupun moralnya. Banyak sekolah yang telah berhasil mencetak siswanya menjadi orang-orang yang memiliki prestasi yang gemilang. Namun tak sedikit pula sekolah yang gagal  menanamkan nilai-nilai moral pada siswa yang berdampak pada kenakalan remaja.  Pengalaman menunjukkan kenakalan remaja disebabkan oleh masalah yang sangat kompleks. Dimana penyebab masalah yang satu mempengaruhi sebab masalah yang lain. Sering  pula kenakalan remaja  disebabkan karena para siswa tidak mendapatkan layanan bidang bimbingan sosial.

Bimbingan sosial yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang sangat penting, karena dengan layanan bimbingan sosial tersebut, diharapkan siswa :

a. Memiliki kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan secara efektif.

b. Memiliki kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif, dan produktif.

c. Memiliki kemampuan bersikap dalam berhubungan sosial, baik di rumah, sekolah, tempat bekerja maupun dalam masyarakat.

d. Memiliki  kemampuan pengembangan kecerdasan emosi dalam hubungan yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya baik di lingkungan sekolah yang sama maupun di luar sekolah.

e. Memiliki pemahaman tentang peraturan, kondisi sekolah dan upaya pelaksanaanya secara dinamis serta bertanggung jawab.

Layanan bidang bimbingan sosial yang diberikan pada siswa berupa:

1. Layanan informasi

Layanan informasi yang diberikan pada siswa terfokus pada:

a. Perkembangan remaja

b. Masalah-masalah yang sering dialami remaja

c. Kiat bergaul tanpa meninggalkan sopan santun

2. Layanan bimbingan kelompok

Layanan ini diberikan apabila situasi dan kondisi memungkinkan untuk dilakukan bimbingan kelompok.

3. Layanan konseling individu

Layanan konseling individu diberikan pada siswa yang mempunyai permasalahan kaitannya dengan masalah sosial khususnya gejala kenakalan remaja.

A.2 Pengertian Kenakalan Remaja

Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Hal hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang sering kita sebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial.

 

 

 

Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo, SH adalah :

a. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.

b. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.

c. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.

Menurut Sri Esti W. Djiwandon (2004: 112) Kenakalan remaja adalah suatu penyesuaian diri yaitu respon yang dipelajari terhadap situasi lingkungan yang tidak cocok atau lingkungan yang memusuhinya.

Kenakalan remaja dapat disebabkan oleh:

1. Identitas diri yang negatif

2. Kontrol diri yang rendah

3. Pengaruh pengawasan orangtua yang rendah

4. Pengaruh ketahanan diri yang rendah

5. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal

Kenakalan remaja merujuk pada tindakan pelanggaran suatu hukum atau peraturan oleh seorang remaja. Pelanggaran hukum atau peraturan bisa  termasuk pelanggaran berat seperti membunuh atau pelanggaran seperti membolos dan mencontek. Pembatasan  mengenai apa yang termasuk sebagai kenakalan remaja mungkin dapat dilihat dari tindakan yang diambilnya:

a. Tindakan  yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial karena bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada pada masyarakat. Seperti berkata-kata kasar kepada guru atau orangtua.

b. Tindakan pelanggaran ringan (status offenses). Seperti melarikan diri dari rumah, membolos dan semacamnya.

c. Tindakan  pelanggaran berat (index offenses). Tindakan pelanggaran berat merujuk pada semua tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja, seperti merampok, menodong, mencuri, memperkosa, menganiaya, serta penggunaan dan penjualan obat-obatan terlarang.

B. Dasar Pemikiran

Kenakalan remaja merupakan dampak dari persoalan yang dihadapi oleh remaja. Kenakalan remaja sendiri disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor  internal diantaranya adalah (1) Krisis identitas.
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. (2) Kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. Faktor eksternal diantaranya adalah (1) Keluarga. Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.          (2) Teman sebaya yang kurang baik. (3) Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Untuk itulah siswa membutuhkan pemberian layanan bimbingan bidang sosial. Karena dengan layanan bimbingan bidang sosial, siswa mendapatkan informasi tentang masa remaja, siswa dapat mengenal tentang perkembangan remaja, mengenal permasalahan remaja serta memecahkan masalah-masalah yang rentan terjadi pada remaja.

C. Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai rumusan jawaban atau kesimpulan sementara yang harus diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan penelitian.[1] Berdasarkan kajian teori dan dasar pemikiran diatas hipotesis dari penelitian ini adalah “Adanya Pengaruh Antara Pemberian Layanan Bidang Bimbingan Sosial Terhadap Penekanan Jumlah Kenakalan Remaja Siswa Kelas X-2 dan X-8 MAN Sumenep ”.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

“Variabel      adalah    objek    penelitian,    atau   apa   yang    menjadi     titik  perhatian suatu penelitian” (Arikunto, 1996:99). Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa variable merupakan objek yang bervariasi dan dapat  dijadikan   sebagai   titik   perhatian   suatu   penelitian.Dalam   penelitian   ini   ada   2 variabel, yaitu:

1.  Jenis variabel

Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu variabel   bebas   atau   variabel    independen      dan    variabel    terikat   atau   variabel dependen. Variabel tersebut adalah sebagai berikut.:

a. Variabel X

Variabel     X   atau   variabel   independen      adalah   variabel    yang   diteliti pengaruhnya   atau   variabel   yang   diduga   memberikan   suatu   pengaruh. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel X atau variabel independen adalah Layanan Bidang Bimbingan Sosial.

b. Variabel Y

Variabel       Y     atau    variabel     dependen       adalah     variabel     yang keberadaannya        tergantung    pada    variabel   lain.  Dalam   penelitian     ini yang menjadi variabel dependen adalah Kenakalan Remaja .

2.   Hubungan Antar Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah layanan bidang  bimbingan sosial   sebagai    variabel   bebas   dan   kenakalan    sebagai variable    terikat.  Karena     dalam    penelitian   ini  variabelnya     ganda   maka variable   yang   satu   mempunyai   hubungan   atau   pengaruh   dengan   variabel yang lain. Variabel X (variabel bebas) mempengaruhi variable Y (variabel terikat.). Dalam     penelitian   ini,  layanan  bidang   bimbingan sosial  sebagai variablel bebas diberikan dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas dalam meningkatkan hubungan sosial yang positif . Dengan demikian layanan   bidang   bimbingan    sosial mempunyai      pengaruh   terhadap variable   terikat  yaitu   berpengaruh   dalam   menekan jumlah kenakalan remaja. Hubungan      antar   varibel  X   dan  Y   dapat  dilihat  dalam  bentuk gambar sebagai berikut:

Gambar 1

Hubungan antar variabel

 

 

 

 

 

 

Hubungan antar variabel

Pada    penelitian   ini  hubungan    antar   variabel  adalah  hubungan positif,   dimana   semakin   sering dilakukan pemberian  layanan   bidang   bimbingan sosial maka kenakalan remaja  semakin menurun

B. Metode  dan Pendekatan Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan yaitu teknik penelitian eksperimen. Karena data variabel belum ada, maka digunakan rancangan eksperimen.

Penenelitian    ini  merupakan     penelitian   eksperimen    yang   bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian layanan bidang bimbingan sosial terhadap kenakalan remaja siswa kelas X-8 MAN Sumenep Tahun     ajaran   2010/2011.    Dengan    memberikan      bimbingan     sosial   dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan rencana penelitian yang telah ditentukan, diharapkan dapat diketahui seberapa besar pengaruh layanan bidang   bimbingan   sosial terhadap kenakalan remaja.

 

 

Desain Penelitian

Desain     penelitian  adalah   semua   proses   yang   diperlukan   dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dengan desain yang baik, maka pengaturan     variabel-variabel    dan   kondisi-kondisi    eksperimental     dapat dilaksanakan secara seksama.

Penelitian   yang   dilakukan untuk    mengetahui     pengaruh   layanan  bidang   bimbingan sosial pada siswa   akan   dilakukan   dengan   mengunakan jenis   Rancangan   True Experimental   atau   seringkali   dipandang   sebagai   eksperimen   yang   sudah baik    karena   sudah   memenuhi      persyaratan.   “Yang    dimaksud     dengan persyaratan   dalam   eksperimen   adalah   adanya   kelompok   lain   yang   tidak dikenai   eksperimen   dan   ikut   mendapatkan   pengamatan. Kelompok  lain yang disebut kelompok pembanding atau kelompok kontrol

Dalam      penelitian   ini,  peneliti  mengunakan    Rancangan       True Eksperimen karena dalam penelitian ini untuk memperoleh data dari suatu perlakuan (treatmen) mengunakan kelompok kontrol. Peneliti memberikan perlakuan     eksperimen   untuk kemudian mengobservasi   efek atau   pengaruh yang     terjadi  akibat  perlakuan    tersebut.   Dalam    penelitian   ini  perlakuan    yang     dilakukan     dengan     memberikan       layanan bidang bimbingan sosial . Pengaruh      atau   efek   pemberian      layanan    bidang bimbingan sosial diputuskan berdasarkan perbedaan jumlah kenakalan remaja kelompok     eksperimen      dengan    kelompok      kontrol.   Pengukuran pertama      diberikan    sebelum     diberikan     layanan    bidang  bimbingan      sosial dan  pengukuran      kedua   diberikan    sesudah    diberikan layanan bidang bimbingan sosial.

 

2. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Karena dalam penelitian ini akan dilihat presentasi jumlah kenakalan remaja yang ada di MAN Sumenep.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

a. Tempat  Penelitian

Tempat penelitian di MAN Sumenep. Peneliti memilih MAN Sumenep atau sederajat SMA karena masalah remaja di Sekolah Menengah Atas sangat kompleks di bandingkan Sekolah Menengah Pertama. Selain itu MAN tidak hanya mengajarkan pendidikan umum tetapi juga pendidikan agama yang lebih kompleks. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di MAN untuk mengetahui apakah dengan pendidikan agama  dapat menekan jumlah kenakalan remaja.

a. Waktu Penelitian

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

D. Populasi dan Sampel

a. Populasi

“Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian” (Arikunto,1996:115). “Populasi merupakan keseluruhan individu atau objek yang diteliti yang emiliki beberapa karakteristik yang sama”.(Latipun, 2002:29)

Populasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MAN Sumenep Tahun Ajaran 2010/2011. Berdasarkan  data  yang dimiliki oleh MAN Sumenep, jumlah Rombongan Belajar kelas X ada 10 rombongan belajar dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3

Jumlah Rombongan Belajar

MAN Sumenep

Tahun ajaran 2010/2011

No.

Kelas

Jumlah siswa

1.

X 1

35

2.

X 2

35

3.

X 3

36

4.

X 4

36

5.

X 5

36

6.

X 6

36

7.

X 7

35

8.

X 8

38

9.

X 9

36

10.

X 10

36

Jumlah

359

b. Sampel

Sampel      adalah     sebagian    atau    wakil    populasi    yang    diteliti  (Arikunto, 1996: 117), sampel yaitu sebagian dari populasi (latupun, 2002: 30). Jadi sample penelitian adalah objek yang dilibatkan langsung dalam   penelitian sesungguhnya yang dapat menjadi wakil populasi. Adapun pengambilan sample dengan cara Random Sampling. Teknik ini diberi nama demikian karena di dalam pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek-subjek dalam populasi dianggap sama. Adapun caranya adalah dengan pengambilan sampel 15 % dari jumlah populasi.

Berdasarkan penghitungan diatas jumlah sampel yang diambil dari penelitian ini sebanyak 54 siswa yang nantinya dipilih secara acak dengan melihat gejala kenakalan remaja pada siswa.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen tes bersifat mengukur, karena berisi pertanyaan atau pernyataan yang alternatif jawabannya memiliki standart jawaban tertentu, benar atau salah ataupun skala jawaban.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Lembar angket yang bertema tentang masalah-masalah remaja

2. Lembar angket yang bertema tentang manfaat pemberian layanan bidang bimbingan sosial khususnya layanan informasi dalam menuntaskan masalah remaja.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data

Untuk mendapatkan data penelitian, maka penulis menggunakan teknik penelitian yaitu:

Library Research

Library Research ini adalah telaah kepustakaan yaitu sebagai teknik pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku yang membahas masalah tersebut, dan juga ahli-ahli atau ilmuwan-ilmuwan yang ada kaitannya dengan pembahasan penulisan ini nantinya.

Field Research

Field Research adalah merupakan suatu telaahan yang dilakukan di lapangan, yaitu dengan terjun langsung ke lokasi sumber penelitian, sehingga data yang ditemukan lebih objektif. Maka untuk terlaksananya proses penelitian tersebut, dilakukan penelitian dengan menggunakan teknik:

Wawancara, yaitu penulis akan melakukan wawancara langsung  dengan konselor sekolah, dan siswa sehingga terkumpul data-data yang objektif untuk kajian tulisan ini.

Angket, yaitu penelitian penulis dalam bentuk tertutup, angket ini digunakan untuk mendapat jawaban yang berhubungan dengan pengaruh pemberian layanan bimbingan sosial sekolah terhadap kenakalan remaja. Sedangkan responden adalah seluruh siswa  yang menjadi sampel dalam penelitian ini.

Observasi yaitu ,mengadakan penelitian dengan cara melihat secara langsung terhadap objek-objek yang akan penulis teliti, yaitu gejala kenakalan remaja.

G. Teknik Analisis  Data

Peneliti akan membuat range kelas gejala kenakalan remaja. Peneliti mengamati jumlah kenakalan remaja sebelum dan setelah diberikan layanan bidang bimbingan sosial. Selain itu peneliti juga melakukan penilaian pemantapan pemahaman sosial pada siswa dengan menggunakan tes angket. Setelah semua data telah terkumpul,  maka penulis melakukan pengolahan data dengan cara menjumlahkan frekuensi jawaban setiap responden, kemudian menetukan persentase berdasarkan jawaban yang di berikan responden.

Teknik analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengolah data penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Oleh karena itu setelah   data   terkumpul   harus   segera   dilakukan   analisis   karena   apabila   data tersebut tidak dianalisis data tersebut tidak dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang sudah dirumuskan.

Analisis   data    dalam   penelitian   ini  bertujuan   untuk  menggambarkan     gejala kenakalan remaja pada siswa   sebelum     dan   sesudah    diberi  layanan    bidang      bimbingan      sosial dan    untuk    mengetahui      pengaruh pemberian  layanan     bidang bimbingan sosial dalam menekan jumlah kenakalan remaja pada siswa. Untuk  mengukur  pengaruh pemberian layanan bimbingan bidang sosial terhadap penekanan jumlah kenakalan remaja digunakan angket dengan skala pengukuran variabel yang mengacu pada Skala Likert., dimana masing-masing jawaban diberi kategori jawaban, yang masing-masing jawaban diberi score atau bobot yaitu banyaknya score antara 1 sampai 5 dengan rincian:

1. Jawaban SS sangat setuju diberi score 5

2. Jawaban S setuju diberi score 4

3. Jawaban R  ragu-ragu diberi score 3

4. Jawaban TS tidak setuju diberi score 2

5. Jawaban STS sangat tidak setuju diberi score 1 (Singarimbun, 1994:249)

Untuk menguji  signifikansi    perbedaan      mean     antar    kelompok eksperimen dan kontrol analisis data yang digunakan adalah uji t-tes. Uji t-tes digunakan untuk menguji siknifikansi perbedaan mean antara kelompok       eksperimen     dan   kelompok     kontrol.   Adapun     rumus    t-tes  adalah

sebagai berikut:

Keterangan

M         = rata-rata selisih nilai pretest-posttest per kelompok

∑x2 = deviasi nilai x (eksperimen)

∑y2 = deviasi nilai y (kontrol)

N          = jumlah anak per kelompok

Agar kesimpulan yang diambil tidak menyimpang maka syarat dari uji

t-tes adalah uji normalitas.

1.   Uji Normalitas.

Uji normalitas digunajkan untuk mengetahui distribusi data yang dapat

dari penelitian. Jika berdistribusi normal maka digunakan statistik parametrik.

Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan SPSS 10.0 (Statistic Product

and Seruice Solution). Data berdistribusi normal jika harga signifikansi lebih

besar dari 0,05 (5%).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta

Syaodih Sukmadinata Nana. 2009. Metode Penelitian Pendidikan, Cetakan Kelima. Bandung: Rosda

Ali Mohamad. 1982. Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi. Bandung: Angkasa

Juantika Nurihsan Achmad. 2007. Strategi Layanan Bimbingan & Konseling, Cetakan Kedua. Bandung: Refika Aditama

Hurlock B Elizabeth. 1997. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga

Sri Esti W. Djiwandon. 2004. Psikologi Pendidikan (Rev-2). Jakarta: Gramedia

Simandjuntak B. 1984. Psikologi Remaja. Bandung: Tarsito

Susanto AB. 2001. Potret-potret Gaya Hidup Metropolis. Jakarta : Kompas

John W. Santrock. 2003. Adolescence/ Perkembangan Remaja. Terj: Shinto B. Adelar; Sherly Saragih. Jakarta: Erlangga.

 


[1] Mohamad Ali, Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi. (Bandung:Angkasa), 1982, hal 52

NAMA

:

ADILAH

KELAS

:

IX-f

NAS

:

35

pengertian pacaran

Pacaran  merupakan hubungan antara lawan jenis antara laki-laki dengan perempuan yang mempunyai hubungan khusus dan melebihi dari status teman. Pacaran sendiri diciptakan karena adanya rasa suka antara keduanya.  Biasanya para remaja sekarang sudah melakukan hubungan tersebut karena hubungan tersebut telah umum dimana saja, bahkan di kalangan anak SMP.  Pacaran telah menjadi trend dikalangan para remaja. Bahkan ada istilah kuper untuk remaja yang tidak berpacaran.

Pacaran telah menjadi hal yang lumrah bagi para remaja. Meski bagi orang dewasa pacarannya anak SMP hanyalah sekedar cinta monyet. Mungkin memang benar istilah tersebut, karena tidak semua remaja paham benar akan arti cinta yang sebenarnya. Mereka hanya melihat cinta sebagai sesuatu yang indah tanpa mereka tahu bahwa cinta juga memiliki duri.  Meski demikian kita juga tidak dapat melarang perasaan yang ada dalam hati mereka. Karena rasa suka, sayang bahkan rasa cinta tidak dapat dikemudikan. Rasa itu nyata datang seketika didalam hati tanpa disadari.

Bagi para remaja dengan berpacaran mereka mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu. Remaja bisa dibuat bahagia dengan pacaran. Dengan berpacaran mereka memiliki teman sharing untuk berbagi suka dan duka, teman ngobrol, teman jalan, dan lain sebagainya.

Pacaran tidak dapat dilihat sosok baiknya saja. Karena kenyataannya pacaran juga dapat membuat para remaja merasakan kecewa, sedih, terpuruk, bahkan patah hati. Dan tentu saja hal ini akan membawa dampak buruk bagi para remaja. Utamanya dalam prestasi belajar mereka.

Saat remaja berada dalam situasi terpuruk karena hubungan dengan pacarnya bermasalah seringkali mengabaikan segala sesuatu yang ada disekitarnya termasuk diantaranya adalah kewajibannya sebagai pelajar yaitu belajar. Mereka kehilangan motivasi untuk belajar. Dan ini sangat mengkhawatirkan.

peta biodata siswa

agar data tidak hilang

 

Penulisan Karya Ilmiah

Penulisan Karya Ilmiah

PENGANTAR PENULISAN KARYA ILMIAH

1. Karakteristik Karya Ilmiah

Teknik Penulisan

Sistematika

Format

Ejaan

Keterbacaan

Materi Bahasa

Struktur Paparan

Gagasan

Proposisi

Penalaran

Argumen

Otensitas

Sumber

Referensi

Evidensi

2. Profil Kemampuan Menulis Karya Ilmiah

Mampu menerapkan: teknik penulisan

Sistematika

Format

Ejaan

Mampu menyusun: keterbacaan

Materi Bahasa

Struktur Paparan

Mampu menyusun: gagasan

Proposisi

Penalaran

Argumen

Mampu menemukan: otensitas

Sumber

Referensi

Evidensi

3. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menemukan Masalah

Prinsip dasar penemuan masalah

what do i know about?

what am i interested in?

Permasalahan adalah subjek.

Permasalahan bukan sekedar konstelasi, tetapi pada

1.      construct,

2.      concept, dan

3.      variables

Penentuan permasalahan berdasar atas the

1.      criterion of interest,

2.      the economic criterion,

3.      the investigator’s ability, and

4.      the criterion uniqueness.

Permasalahan ada karena

    1. yang seharusnya dengan yang ada
    2. apa yang diperlukan dengan yang tersedia
    3. harapan dengan kenyataan

Beberapa teknik menemukan masalah dan menentukan topik tulisan keilmuan:

    1. eksplorasi fakta keilmuan dan atau kejadian sekitar
    2. eksplorasi isu-isu keilmuan aktual
    3. pemanfaatan informasi hasil membaca

4. Judul

Judul merupakan rumusan keseluruhan isi wacana dalam sebuah “formula” yang merupakan cerminan langsung dari tema dan seluruh pokok pikiran dalam wacana.

Kategori rumusan judul:

  1. formula eksistensial: substansi, fungsi, konteks
  2. formula fungsional: substansi, analogi, konteks, implementasi, aplikasi
  3. formula tematik: konteks, implikasi, aplikasi, historis, spesifikasi, latar
  4. formula klasifikatorik: relevansi substansi, relevansi aspek

Judul merupakan rumusan keseluruhan isi wacana dalam sebuah “formula” yang merupakan cerminan langsung dari tema dan seluruh pokok pikiran dalam wacana.

Kategori rumusan judul:

  1. Formula eksistensial: substansi, fungsi, konteks
  2. Formula fungsional: substansi, analogi, konteks, implementasi, aplikasi
  3. Formula tematik: konteks, implikasi, aplikasi, historis, spesifikasi, latar
  4. Formula klasifikatorik: relevansi substansi, relevansi aspek

5. Latar Belakang

1. Paradigma Latar Belakang

Mengapa penulisan dilakukan?

Apa latar belakang sosial budayanya?

Bagaimana relevansi penulisan dengan subjek?

Adakah penulisan sebelumnya?

Adakah informasi yang relevan?

2. Area isi Uraian

1.        Paparan akan pentingnya judul

2.        Paparan akan bermanfaatnya judul

3.        Gambaran umum terhadap masalah yang dibahas

4.        Penegasan pada pembaca bahwa masalah yang dibahas memang penting dan perlu diketahui pembaca

3. Teknik Menguraikan Latar Belakang

1.        Telaah kasus negatif

2.        Telaah kasus positif dikaitkan dengan masalah tulisan

3.        Kutipan menarik dari opini pakar, slogan atau idiom tertentu dikaitkan dengan masalah yang akan dibahas

4.        Informasi familier bagi pembaca

4. Profil Latar Belakang

—        Isu terkini terkait dengan topik

—        Pendapat ahli/teori

—        Pendapat umum

—        Hasil penelitian

—        Pertanyaan retorik

6. Asumsi dan Hipotesis

—        Paradigma

—        asumsi merupakan landasan berpikir

—        hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang harus diuji secara empirik

—        Tidak semua penulisan memerlukan asumsi dan hipotesis

—        Profil

—        memiliki asumsi yang mendasar, baik asumsi faktual maupun konseptual

—        memiliki hipotesis, baik dikemukakan secara formal atau secara alamiah

7. Ruang Lingkup

—        Paradigma ruang lingkup

—        merupakan konstelasi sistem

—        dapat difokuskan pada jaringan aspek/komponen subjek, variabel terpilih, atau konstruk dominan

—        Profil ruang lingkup

—        mengidentifikasi masalah dengan akurat

—        substansi masalah merupakan sebuah konstruk subjek

—        ruang lingkup merupakan konstelasi variabel

—        masalah dibatasi secara spesifik

—        Paradigma

—        menjawab permasalahan melalui proyeksi hasil yang jelas

—        menjawab ruang lingkup permasalahan

8. Tujuan Penulisan

—        Paradigma

—        menjawab permasalahan melalui proyeksi hasil yang jelas

—        menjawab ruang lingkup permasalahan

—        tujuan harus realistik dan terukur (meassurable)

—        Profil

—        menjawab masalah yang telah dirumuskan

—        memiliki dasar asumsi dan hipotesis (jika diperlukan)

—        menggambarkan hasil yang jelas

—        ketercapaian tujuan realistis dan terukur

9. Manfaat Penulisan

Terkait dengan kegunaan dari hasil penelitian, baik untuk civitas akademik maupun masyarakat.

10. Asumsi dan Hipotesis

—        Paradigma

—        asumsi merupakan landasan berpikir

—        hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang harus diuji secara empirik

—        tidak semua penulisan memerlukan asumsi dan hipotesis

—        Profil

—        memiliki asumsi yang mendasar, baik asumsi faktual maupun konseptual

—        memiliki hipotesis, baik dikemukakan secara formal atau secara alamiah

Untuk Bangsaku

Untuk Bangsaku

Bangsaku,bangsa yang kaya
Bangsaku, bangsa yang besar
Bangsaku, bangsa yang berbudaya
Bangsaku, bangsa yang hijau
Bangsaku, bangsa yang merdeka
Begitulah orang berkata tentang bangsaku
Namun yang kulihat tak seperti yang mereka katakan
Kaya……….. Apakah anak terombang-ambing dijalanan mencari sesuap sesuap nasi disebut bangsa yang kaya????
Besar……….Apakah dengan menggantungkan nasib pada negara lain disebut sebagai bangsa yang besar????
Hijau ……… Apakah gagal panen, kebakaran hutan, penebangan hutan secara liar dan berkelanjutan disebut bangsa yang hijau????
Berbudaya…….Apakah dengan seringnya terjadi tawuran, semakin maraknya aksi korupsi, hilangnya rasa malu disebut bangsa yang berbudaya????
Bangsaku, bangsa yang merdeka….
terikatnya hak-hak sebagai manusia
keadilan hukum yang dapat diperjualbelikan
anak-anak tak punya kebebasan mengungkapkan apa yang mereka kehendaki
itukah yang disebur merdeka????
Mereka mengaku rakyat Indonesia…….
tapi tak sekalipun mereka bangga dengan bangsa mereka
hanya demi sebuah nama dan untuk menjaga gengsi….. mereka lebih bangga menggunakan barang import dibanding barang hasil tangan anak negeri.
Mereka mengaku sebagai wakil rakyat Indonesia …….
tapi tak secuil pun mereka ingat nasib rakyat
Gizi buruk masih banyak terjadi di beberapa bagian di negeri ini
Aksi anarkis seringkali terjadi dan tak jarang memakan korban
ketidakadilan kerap kali terjadi dan mereka hanya dapat seolah menutup mata dari semua yang terjadi di negeri ini.
Ketika masa kampanye mereka banyak mengumbar janji
Saat terpilih mereka terlalu banyak teori
Tak cepat Bertindak
65 tahun bangsaku merdeka….
Merdeka tak hanya lepas dari bangsa penjajah
Namun merdeka yakni melepas keegoan diri dari hasrat saling berebut untuk menguasai
Merdeka yakni mengulurkan tangan tanpa harus diketahui media
Merdeka yakni mampu membangun bangsa tanpa menunggu perintah
Merdeka yakni mampu hidup berdampingan dengan orang-orang yang ada disekitar kita tanpa melihat perbedaan yang ada pada mereka

RPBK

CONTOH FORMAT RPBK

layanan informasi gaya belajar

Previous Older Entries